Saturday, 7 January 2017

Tenggelam dalam Kesunyian



Aku adalah seorang perempuan yang telah menikah. Aku tinggal di rumah mertua yang sangat besar dan indah. Aku sangat damai tinggal disana. Apalagi mertua sangat menyayangiku. Meskipun aku dan suamiku tidak saling mencintai. Karena kami menikah hanya atas dasar keinginan orang tua. Meskipun begitu, kami tetap mempertahankan hubungan ini. Kami berdua`tak ingin mengecewakan orang tua. Kamipun tidak pernah berkelahi ataupun berselisih paham, berbicarapun jarang bahkan hampir tidak pernah.

Suatu hari, suamiku mengajak ke sebuah cafe. Tentu saja aku merasa heran, meski begitu aku menyetujuinya. Sesampainya di sebuah cafe dia langsung memesan dua gelas Chocolate Ice, Nasi Goreng Special dan Cheesecake Mouse. Semuanya serba dua karena kami berdua. Emangnya cuman sarimi aja yang bisa dua?? Eh.


Kami saling diam. Beberapa kali dia sepertinya sedang mencuri pandang ke arahku. Tapi aku tak berani balas menatapnya. Aku hanya berfikir "Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Ataukah "Mungkin aku terlihat terlalu cantik hari ini." 


Tampaknya dia sudah cukup bosan memandangiku yang terus diam tak berkutik. Kemudian pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Aku menyambutnya dengan gembira. Tak sabar rasanya ingin segera menghabiskan semuanya. Agar lekas pulang dan terbebas dari ketegangan ini. Entahlah aku menjadi agak resah.


Saat sedang lahapnya tiba-tiba dia mengatakan  ingin bercerai. Hatiku sangat sedih. Bukan untuk perceraian ini. Tapi, bagaimana cara mengatakan tentang hal ini pada orang tuaku? Aku sungguh tak ingin mengecewakan mereka. Namun, yang kulakukan hanya tersenyum dan menyetujuinya.


Tahukah rasanya menyetujui hal yang tak ingin dilakukan?! Bagaimana rasanya?? Dunia seakan berhenti berputar. Gunung-gunung memuntahkan laharnya. Langitpun seakan runtuh. 

Tapi untuk apa juga mempertahankan rumah tangga yang seperti ini? Menghabiskan waktu tanpa berbicara. Saling diam dan tenggelam dalam kesunyian.


Aku jadi tak fokus makan nasi goreng dan tanpa sengaja mengunyah cabe. Bibirku bergetar, air mata dan inguspun seakan berlomba meleleh. Tanpa sengaja aku mendapatkan kesempatan yang baik untuk alasan menangis. Aku terus meneteskan air mata hingga menghabiskan Nasi Goreng. Serta semakin kalap melahap Cheesecake Mouse dan menguras Chocolate Ice.


Kemudian dia mengantarkan aku pulang ke rumah orang tuaku. Dalam perjalanan, dia meminta maaf untuk keputusannya. Aku hanya meng"iyakannya" sambil tersenyum tipis.


"Tidak masalah, ini semua belum terlambat. Lagipula kitakan belum saling mengenal terlalu jauh."


"Dulu kamu tes berapa kali waktu masuk SMA dan di SMA mana?"


"Di SMAM 2 Al-Mujahidin gak ada tes." Seketika aku teringat kata seorang guru disana "Kami tidak memilih murid tapi kami akan berusaha menjadikannya sebagai orang pilihan di lingkungannya." Begitulah kira-kira. 


Aku ingin melempar pertanyaan serupa. Tapi niat itu hanya kupendam. Mobil kembali tenggelam dalam sunyi. Hingga akhirnya dia menelpon seseorang dan kami mampir di sebuah rumah.


Dia telah menyiapkan begitu banyak oleh-oleh untuk orang tuaku. Mungkin sebagai permintaan maafnya. Kemudian kami kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan.


Sesampainya di kediaman ortuku. Aku hanya diam membayangkan situasi seperti apa yang akan terjadi. Aku menunggu dia menyampaikan niatnya itu pada orang tuaku tapi dia malah keburu masuk kamar mandi. Alasannya sih mandi tapi lama sekali seperti semedi.


Entah mengapa aku jadi tak tertarik mendengar apa yang akan dibicarakannya pada orang tuaku. Aku terlalu takut melihat kekecewaan mereka. Lebih baik aku pergi saja. Meski tak tau harus ke mana??Aku berlari sekencangnya. Berharap dia akan mengejarku. Ya enggak lah! Mana mungkin! Tetapi saat aku menoleh ke belakang dia sudah tidak terlihat. Tentu saja! Kemudian aku melangkahkan kakiku dengan gontai, kecewa. Tanpa ku duga dia mendekapku dari belakang. Bukan mendekap sih, mungkin hanya mengejutkanku saja. Harus kuakui dia berhasil mengejutkanku. Karena memang aku sungguh terkejut! Sebelumnya dia belum pernah seperti ini. Kemudian kami berlari bersama. Karena tiba-tiba ada anjing tetangga yang menggonggong dan tampak menakutkan sekali. 


Akhirnya kami memutuskan kembali pulang. Sesampainya di taman halaman rumah dia mengatakan, "Pemilik taman ini sangat pemalas, maukah kamu merawatnya?".  Aku hanya tersenyum dan mengangguk.


Cerita ini terinspirasi dari mimpiku. Sebelumnya, aku sangat menyukai tidur. Hanya dalam mimpi aku bisa melakukan apapun dan kemanapun. Tapi entah mulai kapan aku sering mendapat mimpi buruk, tidak masalah. Bagi pemimpi sepertiku, seperti apapun mimpi itu tak penting. Aku lebih takut tidak bermimpi karena saat itu juga aku akan kehilangan inspirasi. My dream is my inspiration.

22 comments:

  1. Itu laper neng ? Nangis kok g lupa sama makan y?
    Oh kirain ini pengalaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gegara kepedesan jadi lahap. Bukan, aku belum nikah.

      Delete
    2. nyantey aja, jangan buru-buru pengen nikah deh

      Delete
    3. Gak, Mang.. masih pengen memperbaiki karir dulu :)

      Delete
    4. jangan kelamaan juga sih.....pamali

      Delete
  2. ih aku kira ini bener2 realita :D

    ReplyDelete
  3. Jadi cerpen ini terinspirasi dari sebuah mimpi. Keren... Aku biasanya sering dapet mimpi gitu tapi pas bangun udah lupa hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo aku sering mengingat mimpi mimpiku bahkan selama beberapa tahun. Tapi gak inget secara lengkap sih..

      Delete
  4. hemm, kirain kisah mbak arum ma suaminya hehehehe

    ReplyDelete
  5. baca dengan perlahan tenggelam dalam kesunyian jadi seolah ini adalah kisah pribadinya admin deh, tapi masa iya begituh sih?

    ReplyDelete
  6. Wahaha. Ketipu gue. Gue kira lu beneran nikah terus beneran cerai, Rum. Udah kaget gitu. Ternyata mimpi, ya. :))

    Iya, mimpi adalah inspirasi. Setuju!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang, kamu gak sendirian. Hampir semua ketipu. :p

      :))

      Delete
    2. padahal kalau beneran begitu...bisa jadi peluang buat mang Yoga Akbar S ....
      pedekate-in ya

      Delete
    3. Ya Allah.. komentar apa ini?! Si Yoga punya pacar Mang..

      Delete
  7. Hmmmmm gak kebayang gimana gerogi'a pas malam petama, cma makan berdua di cafe aja canggung banget hahaha :D

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar dengan kata-kata yang baik ^_^