Sunday, 22 January 2017

Puisi Bapak



Terus terang ya, bukannya terang terus. Karena sekarang lagi musim hujan. Aku lagi giat giatnya ngobrak ngabrik isi labtop bapak, penasaran puisi macam apa yang di tulisnya selama ini. Bapak suka sekali bikin puisi. Ini mengingat dulu, waktu aku tampil di acara perpisahan beberapa kali bapak selalu menjadi orang yang paling semangat bikinin puisi.

Tapi sialnya, aku juga gak tau kata kuncinya. Nyari manual dan kebanyakan nemunya emang ketikan seputar kerjaan. Akhirnya setelah sekian lama mencari ada tulisan "Wiwit aku" hah! Maksudnya apaan ya...


Berbakti dan Menghormati

Wiwit aku isih bayi,
Wong tuwo sing ngopeni,
Hingga sampai saat ini,
Masih tetap mengasihani,
                Budhal sekolah disangoni,
                Sandang pangan wis  mesthi,
                Mula  aku kudu bekti,
                Mituhu lan ngajeni.-
Mulai aku masih bayi,
Orang tua yang merawati,
Hingga sampai kini (saat ini),
Masih tetap mengasihi,-
                Berangkat sekolah di sanguine,
                Sandang – pangan  sudah mesti,
    Maka aku harus berbakti,

Untung bapak nulis dibawahnya dikasih terjemahan. Jadi paham. Meskipun keturunan suku Jawa aku gak terlalu paham bahasa Jawa halus. Tapi kalo bahasa kasar paham lah ya, kan kalo bergaul sesama orang Jawa jadi bahasa keseharian. Apalagi kuliah di Jawa, kota Malang tepatnya. Aku punya banyak kosa kata baru dari temen temenku. Entah kenapa kosa kata yang buruk malah gampang diinget, kayak mbalon, nggapleki, koen, ngelamak dan masih banyak lagi.

Banyak kesamaan antara aku dan bapak, suka gambar, meskipun gambarku gak bagus bagus amat. Suka bikin puisi ataupun menulis sekedarnya, meski akupun kurang mampu mengungkap segala sesuatu dengan bahasa tulisan. Sampai keras kepalapun. Ya iyalah kepalannya keras, emang mollusca, lunak. Ini membuatku yakin, "Aku benar anaknya" setidaknya itu menurutku. Bukan cuman itu sih, ada akte dan kartu keluarga juga gitu. Semua itu menambah keyakinanku. Mungkin keraguan ini tidak ada, jika aku terlahir dari keluarga lain. Orang yang ku panggil "bapak" memiliki jiwa sosial yang tinggi. Memiliki belasan anak angkat (dulu), sempat membuatku ragu, sebenernya aku ini anak angkat atau kandung sih...?! 

Kalo ternyata aku beneran anak angkat gimana ya...?! Apa yang harus aku lakukan?? Apakah aku harus mencari orang tua kandung yang sebenarnya? Kenapa aku di "titipkan". Mencari pengakuan, seperti di film film. Ataukah sebaiknya aku percaya saja pada akte dan kartu keluarga? Lebih aman. Entahlah.

"Tapi setelah menemukan hadis, seketika damai menyergap hatiku."


"Alhamdulillah, aku anak kandung cuy!" Dalam agama islam, akte dan kartu keluarga gak boleh di "modivikasi" untuk membuat pengakuan palsu. Aku sudah berpikir macam-macam. Seandaikan aku ternyata anak angkatpun. Aku juga gak akan bertekat mencari orang tuaku. Kalo mereka peduli, pasti adalah niatan sesekali menjenguk. Meski sebentar. 

Terkait berbakti dan menghormati orang tua, sebagai anak aku sudah cukup berbakti. Seperti tidak menerima beberapa kali tawaran pekerjaan yang jauh dari rumah. Serta terpaksa menyetujui membuka jurusan baru di SMK deket rumah. Biarlah, bukankah aku memang sudah biasa terpaksa?? Bukankah "Ridho Allah terletak pada ridho orang tua?" Itulah kalimat yang senantiasa membujukku. Menyabarkan dan selalu berusaha ikhlas meski kadang terasa berat. Lagipula semenjak aku menyetujui permintaan itu bapak dan mama sepertinya lebih menyayangiku. Setiap pagi kalo aku berangkat sekolah, bapak dan mama semangat sekali. Seneng lihat ortu begini. Meskipun itu juga terjadi beberapa hari saja, setelahnya seperti biasa. 

Ehem, sebenernya sedikit curiga. Apakah dengan membuka jurusan baru di SMK adalah taktik biar aku gak jadi ikut program "SM3T" yang selalu ku inginkan?? Biarlah, semua terjadi seperti biasanya. Untuk apa aku bikin keinginan, semua selalu terjadi seperti kehendak orang tua. Itulah kenapa aku malas sekali bikin resolusi, ataupun mencatat keinginanku sendiri. Bahkan soal menikahpun. Rasanya tak ingin peduli. Mungkin juga dijodohin. Tapi hari ini aku berfikir sedikit berbeda..

"Punya pacar gak? Kalo punya suruh cepetan temuin bapak. Ntar bapak ajak ke masjid jadi imam. Jangan-jangan satu rakaat cuman bisa baca satu surat, pendek lagi."

"Mana ada? Bukannya bapak sendiri yang gak ngebolehin pacaran?"
"Gak apa kalo cuman bisa satu surat, tapi harus yang Al-baqarah." Mba Rahma ikut menimpali.

Bapak sama mba Ma, terus aja mojokin aku, sambil ketawa- ketawa. Jodoh bisa nyari sendiri, tapi kreteria ditentukan orang tua. Oh ya, aku juga udah pernah nulis petuah nikah dari orang tua. Menurutku mending aja sekalian dijodohin. Daripada milih sendiri mtar diprotes mulu. Jadi inget kalimat "Nikahilah, maka ia akan menjadi jodohmu" dan "Menikahlah karena agamanya."

Sejujurnya juga belum siap nikah. Pengen berkarir dulu, membahagiakan kedua orang tua. Kalo aku selalu mengulur sampai aku benar benar siap itu hanya akan menambah tanggungan dosa bapak. Inilah kenapa seberapapun berjuang seorang anak berusaha berbakti dan menghormati orang tua takakan mampu membalas kebaikan orang tua. Selalu  ada yang harus di korbankan. Cuman bisa berdoa, "Semoga Allah mengabulkan keinginan kedua orang tuaku melalui aku" dan "Semoga Allah mengirimkanku jodoh pada waktu yang tepat. Aamin ya Robb." 

24 comments:

  1. hehe,, endingnya ternyata curhat������.
    Tapi bagus cerita nya., lima jempol buat kamu,, meskipun aku punya 4 jempol yang satu jempol pinjam kamu dulu.hehe.
    Rum, Arum yang berarti Wangi, Kusuma yang berarti bunga yang indah.,,
    selyaknya nama mu,, adalah doa dari orang tua buat kamu sejak di lahirkan, mengaharpkan dirimu bisa menjadi wangi menebarkan wewangian dari hati , pikiran, sikap , perbuatan dan tutur katamu.
    Nanggapi orang tua, baik orang tua kandung, atau orang tua ASU(yang se Susu an), bahkan orang tua angkat., seindahnya Agama islam yang sesuhguhnya INTI nya Lebih indah dan SIMPLE, dari pada Kulitnya yang mengajarkan.
    Amar ma'ruf nahi munkar (al`amru bil-ma'ruf wannahyu'anil-mun'kar) adalah sebuah frasa dalam bahasa Arab yang maksudnya sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat. Frasa ini dalam syariat Islam hukumnya adalah wajib.

    Dalil amar ma'ruf nahi munkar adalah pada surah Luqman, yang berbunyi sebagai berikut:

    “ Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman 17) ”
    Jika kita tidak mau melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, maka Allah akan menyiksa kita dengan pemimpin yang zhalim dan menindas kita dan tidak mengabulkan segala doa kita:

    Hendaklah kamu beramar ma’ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdo’a dan tidak dikabulkan (do’a mereka). (HR. Abu Dzar)

    Amar ma'ruf nahi munkar dilakukan sesuai kemampuan, yaitu dengan tangan (kekuasaan) jika dia adalah penguasa/punya jabatan, dengan lisan atau minimal membencinya dalam hati atas kemungkaran yang ada, dikatakan bahwa ini adalah selemah-lemahnya iman seorang mukmin.
    Di dalam perbuatan amar ma'ruf terdapa perbuatan, berbakti terhadap Orang tua.
    Nabi Muhhammad SAW, kita pun tetep mendokan yang baik2, berbuat dan bersikap baik pada pamanya meskipun (kafir).
    So sweet, so simple kan., jd berbuat baik jangan Kau ragukan lagi Rum, setidaknya berbuatlah baik dulu dan berprasangka lah baik dulu masalah hasil itu urusan Murbehing Dumadi Sangkan Paran.

    masalah nikah janganlah ayat2 Al Quran di jadikan mahar atw mas kawin karena sangat terlalu berat, bila kedua memplai tidak melaksanakan dari kandungan tafsir dari ayat tersebut. sekali meninggalkan amalan neraka lah jaminanya,, neraka di perkawinan tersebut.

    maaf terlallu panjang komentnya, begitu sepengetahuanku
    , hamba hanya manusia biasa bila salah itu memang dari saya bila benar kebenaran itu hanya milik Alloh SWT....,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini mah postingan baru. bukan dijadikan mahar, cuman mau lihat hafalannya aja kali

      Delete
    2. ini komentar terpanjang yang pernah aku liat.

      Delete
    3. Betul nih, komennya kayak postingan. Tapi gpp jdi bisa balajar dr komennya juga :)

      Delete
    4. Ini juga komentar terpanjang yang pernah aku baca.

      Delete
  2. Kan judul tulisannya puisi bapak ya,, kok diakhir kesimpulannya jadi bahas nikah,,, ini aku yang nggak nyambung atau memang penulis punya intuisi super jadi orang2 sampe nggk nutut buat memahaminya...hufss %$#$%^&*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begini maksudnya, kan judul puisinya bapak "berbakti dan menghormati" aku juga berusaha berbakti dan menghormati dengan mematuhi atau memenuhi keinginan orang tuaku, meskipun awalnya terpaksa. Kemudian, akhir akhir ini bapak pengen aku nikah. Tapi aku belum siap, entah sampe kapan.. nah, makanya aku berdoa seperti yang di paragraf akhir. Gimana? udah ngerti? :)

      Delete
  3. mungkin perlu mbadok sek...hahaha

    ReplyDelete
  4. gakpapa cuma hapal satu surat, surat al baqarah. hahahaaa..
    aku orang jawa malah gak ngerti kata yang kasar itu, itu bahasa jawa timur kali ya. kalo jawa tengah kekenya gak ada, apa lagi kalojawa barat. heemm

    dari puisi sampe ke curhat ya rum? bagus juga puisinya.
    amiiinnnn... buat doaanya tek aminin.

    sampe mikir anak kandung apa bukan, hahaaa.. aku dulu juga pernah terlintas mikir kek gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu.. Beraat..

      Iya itu bahasa keseharian di malang tuh.. kalo Jawa tengah lebih halus, Kalo jawa barat malah lebih ke bahasa sunda..

      Makasih banget! baik deh :)

      Ternyata bukan cuma aku sendiri :)

      Delete
  5. Bener tuh, biasanya kosakata yg kasar atuh buruk gmpang di ingat. haha
    Keren bapaknya ya, bikin puisi, gambar :)

    Alhamdulilah anak kandung. hehe

    Semoga keinginan kedua orang tua mba Arum terkabul ya. Dan mba Arum bisa berkarir sesuai apa yang diinginkan..aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah! senasip! Iya, bapakku mah gitu :)

      Iya, Alhamdulillah :)

      Aamiin ya Rabb, makasih :)

      Delete
  6. Asique, punya bapak yang suka nulis puisi. Anaknya udah pasti suka nulis puisi juga dong ya, eh iya kan? Hihih, Kalo papah aku sukanya baca puisi, nulis puisi, katanya, engga bisa. xD

    Hahah, Ending-endingnya ngomongin jodoh. Semoga Allah mengabulkan keinginan kedua orang tuamu melalui kamu ya, Rum. Aamiin:))

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, meskipun puisiku kurang bagus :). Kalo kamu mah ntar papahmu bacain puisi karyamu aja.. Cocok :D

      Soalnya dari semua keinginan ortu cuman itu menurutku paling berat :(. Aamin Novi, makasih :)

      Delete
  7. Menikah itu harus di segerakan mba hehe

    ReplyDelete
  8. hebat mbak bapaknya suka bikin puisi... jadi bisa belajar bareng kan ya.

    ReplyDelete
  9. itu bahasa daerah mana sih kak?

    ReplyDelete
  10. yaampun. MBALON.
    Huaahahahhaaa
    itu kosa katabaru mu rum?

    Sungguh teman teman mu adalah teman teman yang baik. hahahaa


    Iya aku juga udah punya calon. Orang sekitar udah bilang cepetan nikah cepetan nikah.
    Tapi yang namanya blm siap ya emang ga bisa di paksa.

    Btw komentar pertama panjang bener ya rum :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, baru di Malang tuh taunya.. Hahaha

      Temenku rerata ngomongnya blak blakan :D

      Nah itu dia. Kalo belum siap apa mau dikata, pasti jadi punya banyak alasan buat nunda nikah. Kalo jodoh pasti bakalan ketemu di pelaminan ntar :).

      Iya, sampe bingung mau balas apaan. :)

      Delete
  11. anak shalihah....
    semoga Allah selalu memudahkan dan menguatkanmu nak :)

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar dengan kata-kata yang baik ^_^