Wednesday, 17 January 2018

Terbuai Janji

Terbuai Janji 

Rintikan  hujan membasahi bumi. Rintikan air mata membasahi pipi. Teringat akan janjinya yang di ingkari sendiri.



Terbuai kata, berujung dosa.
Karenanya, aku membenci diriku sendiri. Jika sudah begini. Lalu siapa lagi yang peduli? Tuhankah!?  Setelah Aku menjalankan larangannya.

Rasanya ku tak anggup jalani hari sendiri. Mengadu pada manusia?  Mereka hanya bisa menyalahkanku.  Pada Tuhan? Berdoa saja membuatku malu.  Masih pantaskah aku memohon? Masih pantaskah mengaku hamba-Nya?

Diawali kehilangan iman,  kemudian kehormatan atasku dan keluargaku. Aku kehilangan rasa percaya diri. Bagaimana orang memandangku dan menggunjingku. Aku tak tahan  lagi, sungguh!

Dia yang meninggalkanku demi orang lain. Akankah dia menjanjikan hal  yang serupa? Berkata semanis madu dan kemudian meninggalkan pilu?

Aku menyalahkannya.  Terus menyalahkannya. Tapi semua menyalahkanku. Ya!  Salahku. Memang salahku. Mencintai sebelum dimiliki. Cintaku padanya hanya mengantarkan kebencian untuk diriku.

Aku ingin sendiri,  menghukum diri. Tapi bagaimana dengan bayi ini? Lahir atas kesalahanku. Tumbuh tanpa ayah. Bagaimana jika kelak menanyakan ayahnya? Apa yang harus kukatakan?! Aaggraahh...  Sungguh ku tak sanggup lagi..

Ayah,  ibu..
Maaf aku hanya bisa mengecewakanmu. Aku terlalu takut melihat kemarahanmu, ayah.. Aku juga takut melihat ibu sedih..

Entahlah apa yang ingin ku ucapkan lagi. Rasa sesal dan bersalah tak bisa kubendung lagi. Aku tak bisa..  Aku tak sanggup lagi hadapi  semua ini!

Hujan kian deras.  Langkahnya gontai menuju tengah jembatan tua.  Matanya yang sayu terus saja memandangi aliran air sungai yang mengalir. Entah setan apa yang mampu berbisik hingga mendorongnya terjun dari jembatan itu.  Tubuhnya beberapa saat melayang di udara sebelum terhempas mengenai batu pinggiran sungai. Darah  mengucur dari kepalanya. Di akhir hidupnya  tampak begitu tersiksa.  Hidup tak bisa,  matipun bumi seakan tak menerima. Tak dapat terlukiskan betapa sakitnya yang dirasakan. Apakah setelah kematian dia justru menginginkan kehidupan?  Tapi semua itu telah menjadi kenangan. 

Untukmu lelaki penabur janji.  Tak takutkah pada azab  Illahi? Janji adalah hutang.  Hutang wajib dibayar.  Jika tak mampu membayarnya di dunia maka Kamu akan membayarnya di akhirat.  Ingat itu...!

Semua orang boleh berjanji.  Karena kita tak akan mampu melarangnya. Tapi..  Kita masih punya pilihan untuk tidak terlalu mempercayainya. Sekian,  terimakasih sudah meluangkan waktunya.

13 comments:

  1. Tentu masih pantas, karena Tuhan Maha Pemaaf.
    Merasa salah boleh, tapi jangan keterusan, karena dia juga sudah bersama orang lain. Saat ini yang harus dilakukan mendekat kepada sang Maha Pencipta. Scan ulang diri ini, bersihkan dan jangan lagi-lagi berharap sama makhluk.

    Cukup jadi pelajaran apa yang udah dia perbuat yang berujung sakit. Dan kepeda siapapun hal buruk yang lelaki itu lakukan kepadamu, jangan sampai ditiru. Seburuk apapun perlakukan orang kepada kita, balaslah dengan berbuat baik :)

    Haa. Ngomong apa ya, aku. Tapi aku juga merasa gitu sih. Bedanya cewek yang gitu. Tapi ya udah, perlahan dan seiring berjalannya waktu juga akan lupa. Yang jelas saat ini harus memperbaiki diri lagi. Sebelum mencintai makhluk-Nya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, ya, aku udah nulis diary tentang Watu Goyang lho, Teh.
      Waktu itu kan teh Arum yang reques untuk nulis itu. Coba tengok deh..he

      Delete
    2. Iya, sebaiknya tobat sih..

      Kalo tetap berperilaku baik kepada orang yang bersikap buruk itu sungguh sulit. 😐

      Haa.. Sabar ya Andi... Semoga kelak dapat yang lebih baik.. Aamiin ya Robb..

      Iya, kemarin sudah baca. Kereen banget tempatnya. Murah lagi.. πŸ˜€πŸ˜€

      Delete
    3. Bener, Teh..

      Murah ya, coba deket, psti udah di datengin ya..hehe
      Di list dan niatin aja dulu, nanti kalau ke Jogja baru exsplor..

      Delete
  2. Tumben Arum nulis fiksi. :D

    Kupikir perempuan itu nggak perlu bunuh diri meskipun sedang mengandung bayi dari hasil perbuatan zina. Ya, gimana yak. Sama saja membunuh dua manusia dalam satu tubuh. :(

    Iya, semua perbuatan akan ada balasannya. Lebih pedih lagi kalau udah dapet balasan di dunia, di akhirat juga. Hm.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, lagi pengen aja. πŸ˜…

      Ya, namanya orang Frustasi Yog. Lebih berat malunya daripada dosanya setelah bunuh diri.. πŸ˜‘

      Itu double ngenes. Di dunia sengsara diakhirat disiksa πŸ˜₯

      Delete
  3. So deep.

    Ini harus jadi bacaan perempuan yang sedang mempertanyakan hubungannya dengan lelakinya. Kadang salah langkah dalam cinta emang terjadi. Bukan untuk membuat kita jatuh, namun justru membuat kita bangkit dan menjalani hari dengan kacamata baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tapi kalo sudah salah langkah mau bangkit itu susah.

      Hmmmm....

      Delete
  4. Tanggapan mengenai tulisan ini: Oh girl, jangan berdrama, seolah-olah ngga tau kalau cowo kalau lagi sange itu suka khilaf kalau ngomong!

    ReplyDelete
  5. Janji itu emang manis sih.
    Sampe banyak orang yang salah langkah.
    Tapi biar gimana pun, setiap kesalahan itu juga bakal dapat ganjaran kok, bisa di sini, bisa di alam lain.

    ReplyDelete
  6. kalo udah kaya gitu cuma bisa nangis dan menyesali semua yang telah terjadi, buat kalian para perempuan ingatlah pesan ayah dan ibumu nak

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar dengan kata-kata yang baik ^_^