Monday, 18 November 2013

Bubuk Ajaib

Disebuah perkebunan yang sangat luas tumbuh berbagai macam tanaman. Mereka tampak tumbuh subur, meski tiada yang merawatnya. Warna daunnya yang hijau menyejukkan mata setiap yang memandangnya. Aku berjalan dengan seorang laki-laki. Dia gagah, keren, dan terlihat sangat berwibawa, sebut saja namanya Hendri. Kami berjalan berdampingan bukan karna aku pacarnya, istrinya, apalagi hanya simpananya. Hubungan kami hanya sementara. Karna aku hanyalah seorang pemandu wisata. :p

pengen banget duduk di batu itu, sayang gk da yang mau fotoin.. :(

“Indah sekali pemandangannya. Dan akupun hanya membalasnya dengan senyuman termanis yang pernah kumiliki *heleh. Tiba-tiba aku merasakan ada yang mengawasi kami dari jauh. Tapi siapa? Sejak tadi kami hanya berjalan berdua saja.
“Lihat awan itu! Sangat indah bukan?! Ucapnya dengan nada yang riang gembira dan mempesona.
“Mana pak? Sahutku dengan seantusias mungkin. Subhannallah…..!! awannya benar-benar indah, belum pernah aku melihat awan seindah ini secara langsung. Seperti sunrise or sunset yang pernah kulihat difoto-foto yang begitu keren!
“Astagaa….!! Teriakku sepontan.
Ternyata awan itu yang dari tadi mengawasi kami. Dengan sekejap awan yang indah itu berubah menjadi sangat menakutkan. Menutupi sinar matahari dan menjadikan bumi gelap seketika.
Jadi inget libur tahun baruan di Bali. Kalo gak salah itu akhir Desember 2011 deh. Waktu itu abis ujan dan akupun berinisiatif duduk-duduk di teras atas untuk menikmati pemandangan di sore hari. Pas ngeliat langit, eh ada penampakan kaya gini.. 

awan aja kedipin aku, masa kamu enggak?!  :D

Menurutku, itu hanya 1 dari ribuan kekuasaan sang Ilahi. Rada merinding gimana gitu sih waktu ngliatnya. oke, kita lanjutin ceritaku :)

“Tiarap…!! Teriakku memberi aba-aba. Petir menggelegar bersahut-sahutan. Berkali-kali aku merasakan ada hantaman yang sangat keras yang menghantam di sekitar kami. Entah apa yang terjadi sehingga awan hitam tersebut berubah menjadi seorang lelaki yang sangat menakutkan. Bukan karena buruk rupa atau punya penyakit yang sangat menjijikkan tetapi karena dia beraroma seorang pembunuh yang sadis. Berlahan  dia mendekati kami dan berusaha menawan Hendri. Kami berusaha melawan kehendaknya. Diapun semakin murka dengan apa yang kami perbuat. Dan akhirnya dia membunuh Hendri dengan belati.
Sejenak aku terkesip dengan sikapnya. Kemudian Aku berusaha melawan dia dengan tanganku dan seluruh tenaga yang ku miliki. Perkelahian semakin sengit. Dua nyawa sama-sama pemperjuangkan haknya untuk hidup. Tetapi tiada pula yang mengalah ataupun berusaha mengakhirinya. Kucabut kayu ulin, ku tancapkan didadanya. Darah mengucur begitu derasnya. Bau amis itu menusuk dan memenuhi setiap rongga dalam tubuhku, membuatku semakin haus dan lapar. Belum selesai aku tersenyum menikmati sebuah kemenangan tiba-tiba datang sekelompok lelaki menyerangku. Tiada pilihan lain selain maju dan menghadapinya. Ku tendang, pukul, tusuk. Awalnya begitu mudah mengalahkan mereka. Tapi lama kelamaan lawanku semakin banyak dan kuat. Aku mulai letih dan putus asa. Malaikat maut seakan menari-nari dihadapanku. Menanti Tuhan memerintahnya mencabut nyawa seorang pembunuh yang selalu menambah pekerjaannya. Biarlah aku mati. Toh suatu saat memang harus mati walau aku tak tau kapan itu. Bedanya jika aku menyerah sekarang, kematian itu datang lebih cepat dari yang ku perkirakan. 
Ditengah rasa risau, gundah, gelisah. Datanglah sekelompok lelaki yang menyelamatkanku. Mereka  membawaku kesebuah tempat dan menyerahkanku pada dua orang perempuan yang sangat cantik dan menawan. Mereka tersenyum kepadaku dan membawaku ke sebuah kamar yang sepertinya tidak asing bagiku. Tapi apa? Dan dimana itu?! Aku tidak dapat mengingatnya sedikitpun. Aku semakin takut. Akupun memutuskan untuk bersembunyi di almari kayu. Berharap tak ka ada yang dapat menemukanku. Ternyata aku salah, mereka dapat menemukanku dan merubahku menjadi bubuk. Rohku masih disitu dan dapat mendengarkan apapun yang mereka bicarakan. Mereka bilang “Bubuk itu dapat hidup kembali jika dilarutkan kedalam air”. 


Woow! ajaib bukan?! 

Sambil nunggu narsis dulu..  :D

Aku menunggu seseorang melarutkan bubuk itu, agar aku dapat hidup kembali dan melanjutkan ceritaku.
samar-samar terdengar sebuah suara yang sangat khas. Semakin lama suara itu mengencang dan mengganggu pendengaranku. Ah, ternyata alaram sholat subuh..

No comments:

Post a comment

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar dengan kata-kata yang baik ^_^